Aurat wanita

Aurat wanita di luar rumah.

‘Aisyah berkata : Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar pernah datang menghadap Nabi SAW dengan berpakaian tipis, maka beliau berpaling dari padanya dan bersabda, “Hai Asma’ !, sesungguhnya seorang wanita apabila suah baligh tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini”, beliau sambil mengisyaratkan kepada wajah dan dua tangannya. [HR. Abu Dawud]

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam orang ahli neraka yang belum aku lihat, yaitu kaum yang memegang pecut (cemeti) bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang-orang dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang dan berlenggak-lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapat baunya, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian-sekian (jarak yang sangat jauh)”. [HR. Muslim]

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Ahzaab : 59]

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur : 31]

Adapun aurat laki-laki sepanjang riwayat ialah antara pusar dan lutut.

 

Hadits-hadits Nabi SAW :

قَالَ جَرِيْرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ نَظْرِ اْلفَجَأَةِ فَاَمَرَنِى اَنْ اَصْرِفَ بَصَرِى. مسلم

Jarir bin ‘Abdullah berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat (wanita) dengan tidak sengaja, maka sabdanya, “Palingkanlah pandanganmu”. [HR. Muslim]

يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ فَاِنَّ لَكَ اْلاُوْلَى وَ لَيْسَتْ لَكَ الثَّانِيَةَ. ابو داود

Hai ‘Ali, janganlah kamu iringkan satu pandangan (kepada wanita) denan satu pandangan, karena yang pertama itu tidak menjadi kesalahan, tetapi tidak yang kedua. [HR. Abu Dawud]

قَالَتْ اَمُّ سَلَمَةَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيّ ص وَ عِنْدَهُ مَيْمُوْنَةُ بِنْتُ اْلحَارِثِ فَاَقْبَلَ ابْنُ اُمّ مَكْتُوْمَ. وَ ذلِكَ بَعْدَ اَنْ اُمِرْنَا بِاْلحِجَابِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ: اِحْتَجِبَا مِنْهُ. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَ لَيْسَ اَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا؟ فَقَالَ: اَفَعَمْيَاوَانِ اَنْتُمَا، اَ لَسْتُمَا تُبْصَرَانِهِ. ابو داود و الترمذى

Ummu Salamah berkata : Dahulu saya duduk di sisi Nabi SAW dan di situ ada Maimunah binti Al-Harits. Kemudian Ibnu Ummi Maktum datang (yang demikian itu sesudah kami diperintah berhijab), lalu dia masuk kepada kami. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Berhijablah darinya”. Lalu kami berkata, “Ya Rasulullah, bukankah dia itu buta, tidak melihat kami ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu berfua buta juga ?. Bukankah kamu berdua melihatnya ?”. [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]

قَالَ اَنَسٌ: اِنَّ النَّبِيَّ ص اَتَى فَاطِمَةَ بِعَبْدٍ قَدْ وَهَبَهُ لَهَا وَ عَلَى فَاطِمَةَ ثَوْبٌ اِذَا قَنَّعَتْ بِهِ رَأْسَهَا لَمْ يَبْلُغْ رِجْلَيْهَا وَ اِذَا غَطَّتْ بِهِ رِجْلَيْهَا لَمْ يَبْلُغْ رَأْسَهَا. فَلَمَّا رَأَى النَّبِيُّ ص مَا تَلْقَى قَالَ: اِنَّهَ لَيْسَ عَلَيْكَ بَأْسٌ اِنَّمَا هُوَ اَبُوْكَ وَ غُلاَمُكَ. ابو داود

Anas berkata : Bahwasanya Nabi SAW pernah memberi kepada Fathimah seorang hamba laki-laki, sedang Fathimah berpakaian yang apabila ia tutup kepalanya, terbuka kakinya, dan apabila ia tutup kakinya terbukalah kepalanya. Tatakala melihat keadaan itu, Nabi SAW bersabda, “Tidak mengapa bagimu, karena dia itu seperti halnya bapakmu dan anak laki-lakimu”. [HR. Abu Dawud]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ اِلاَّ بِخِمَارٍ. ابو داود

Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah baligh melainkan dengan kudung kepala”. [HR. Abu Dawud]

لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنِ امْرَأَةٍ صَلاَةً حَتَّى تُوَارِيَ زِيْنَتَهَا وَ لاَ مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتِ اْلحَيْضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ. الطبرانى

Allah tidak akan menerima shalat dari seorang wanita hingga ia menutup perhiasannya, dan tidak (diterima shalat) dari seorang wanita yang sudah baligh hingga ia memakai kerudung. [HR. Thabrani]

اِنَّ نِسَاءَ النَّبِيّ ص سَأَلَتْهُ عَنِ الذَّيْلِ فَقَالَ: اِجعَلْنَهُ شِبْرًا. فَقُلنَ: اِنَّ شِبْرًا لاَ يَسْتُرُ مِنْ عَوْرَةٍ. فَقَالَ: اِجْعَلْنَهُ ذِرَاعًا. احمد

Sesungguhnya istri-istri Nabi SAW pernah bertanya kepada beliau tentang pinggir kain, maka Rasulullah SAW menjawab, “Panjangkanlah sejengkal”. Mereka berkata, “Sejengkal tidak dapat menutup aurat”. Maka beliau bersabda, “Jadikanlah sehasta”. [HR. Ahmad]

قَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّ اَسْمَاءَ بِنْتَ اَبِى بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى النَّبِيّ ص وَ عَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَاَعْرَضَ عَنْهَا وَ قَالَ: يَا اَسْمَاءُ اِنَّ اْلمَرْأَةَ اِذَا بَلَغَتِ اْلمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ اَنْ يُرَى مِنْهَا اِلاَّ هذَا وَ هذَا. وَ اَشَارَ اِلَى وَجْهِهُ وَ كَفَّيْهِ. ابو داود

‘Aisyah berkata : Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar pernah datang menghadap Nabi SAW dengan berpakaian tipis, maka beliau berpaling dari padanya dan bersabda, “Hai Asma’ !, sesungguhnya seorang wanita apabila suah baligh tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini”, beliau sambil mengisyaratkan kepada wajah dan dua tangannya. [HR. Abu Dawud]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَاَذْنَابِ اْلبَقَرِ يُضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ. وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاطٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُءُوْسَهُنَّ كَأَسْنِمَةِ اْلبُخْتِ اْلمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ اْلجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ اِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَ كَذَا. مسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam orang ahli neraka yang belum aku lihat, yaitu kaum yang memegang pecut (cemeti) bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang-orang dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang dan berlenggak-lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapat baunya, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian-sekian (jarak yang sangat jauh)”. [HR. Muslim]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s