bid’ah hasanah…… ?

SUNNAH & BID’AH (ke-1)

Rasulullah SAW bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ. مالك، فى الموطأ 2: 899

Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899]

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menjamin bahwa orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mereka tidak akan sesat.

Tentang Al-Qur’an, kita sudah mengetahui yang dimaksud, adapun tentang sunnah, marilah kita ikuti pembahasannya sebagai berikut :

Arti Sunnah menurut bahasa

Kata Sunnah menurut lughat (bahasa) berarti sebagai berikut :

  1. Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku.
  2. Cara yang diadakan.
  3. Jalan yang telah dijalani.
  4. Keterangan.

Dengan singkat dapatlah dijelaskan sebagai berikut :

  1. a) Sunnah yang berarti undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku, seperti firman Allah di dalam Al-Qur’an yang bunyinya :

سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً. الاسرآء:77

(Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu. [QS. Al-Israa’ : 77]

سُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً. الاحزاب:62

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [QS. Al-Ahzab : 62]

Dengan dua ayat ini jelaslah bahwa kata “sunnah” dalam dua ayat ini berarti peraturan atau undang-undang yang tetap berlaku.

  1. b) Sunnah yang berarti cara yang diadakan, seperti sabda Nabi SAW :

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ، وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ. مسلم 4: 2059

Barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang baik di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya, maka ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang buruk di dalam Islam lalu (cara itu)  diikuti orang sesudahnya, maka ditulis baginya sebanyak dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak kurang sedikitpun dari dosa mereka. [HR. Muslim juz 4, hal. 2059]

  1. Sunnah yang berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani, seperti sabda Nabi SAW.

اَلنّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّي. ابن ماجه

Nikah (kawin) itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 592]

Sebagaimana diketahui bahwa Nabi SAW itu bukan orang yang pertama kali menjalani nikah, melainkan hanya mengikuti jalan yang pernah dijalani oleh para Nabi yang datang sebelumnya.

Dan seperti sabda Nabi SAW :

اَبْغَضُ النَّاسِ اِلىَ اللهِ ثَلاَثَةٌ: مُلْحِدٌ فِى اْلحَرَمِ وَ مُبْتَغٍ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةَ اْلجَاهِلِيَّةِ وَ مُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقّ لِيُهْرِيْقَ دَمَهُ. البخارى 8: 39

Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki perjalanan jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq (benar) untuk ditumpahkan darahnya. [HR. Bukhari juz 8, hal. 39]

Dengan dua hadits ini jelaslah kata “sunnah” dalam dua hadits ini berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani oleh orang yang datang terlebih dahulu.

  1. Sunnah yang berarti keterangan, seperti perkataan ulama lughat :

سَنَّ اللهُ اَحْكَامَهُ لِلنَّاسِ

Allah telah menerangkan hukum-hukumnya kepada manusia.

سَنَّ الرَّجُلُ اْلاَمْرَ

Orang lelaki itu telah menerangkan satu urusan.

Demikianlah diantara arti “sunnah” menurut lughat (bahasa).

Arti Sunnah menurut istilah syara’

Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih memberikan ta’rif kata “Sunnah“, demikian :

مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.

“Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

Jadi sunnah Nabi itu ada 4 macam :

  1. Sunnah Qauliyyah (sunnah yang berupa perkataan Nabi SAW).
  2. Sunnah Fi’liyyah (sunnah yang berupa perbuatan Nabi SAW).
  3. Sunnah Taqririyyah (sunnah yang berupa pengakuan Nabi SAW).
  4. Sunnah Hammiyah (sunnah yang berupa keinginan Nabi SAW).

Dan “Sunnah” bisa pula berarti hukum sunnah, yaitu apabila diakukan mendapat pahala, apabila ditinggalkan tidak berdosa. Dan “As-Sunnah” dipakai pula sebagai sinonim Al-Hadits.

Imam Asy-Syathibiy berkata dalam kitab Al-Muwafaqat : Kata “As-Sunnah” itu dipakai juga untuk nama bagi segala apa yang tidak diterangkan di dalam Al-Qur’an, baik menjadi keterangan bagi isi Al-Qur’an ataupun tidak. Dan dipakai juga sebagai lawannya “bid’ah“. Seperti dikatakan, “Si Fulan itu berada pada sunnah“. Yakni : ia mengerjakan perbuatan yang sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Nabi SAW, baik pekerjaan itu ada nash-nya di dalam Al-Qur’an ataupun tidak. Dan seperti dikatakan juga : “Si Fulan dalam bid’ah“. Yakni : Apabila ia telah mengerjakan pekerjaan yang berlawanan atau menyalahi perbuatan yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW.

Selanjutnya Asy-Syathibi berkata, “Dan kata “sunnah” ini dipakai juga menjadi nama bagi pekerjaan atau perbuatan para shahabat Nabi, baik pekerjaan itu terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah ataupun tidak. Karena adanya pekerjaan tersebut dengan mencontoh “sunnah”, atau karena ijtihad mereka dengan disepakati para khalifah mereka, yang dikala itu tidak dibantah oleh seorangpun dari mereka. Pemakaian isthilah ini disandarkan atas sabda Nabi SAW yang bunyinya :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيّيْنَ. الدارمى 1: 45

“Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang rasyidin yang mengikuti petunjuk”. [HR. Darimiy juz 1, hal. 45, no. 93].

Fungsi As-Sunnah/Al-Hadits

Telah diketahui dan diyakini oleh segenap ummat Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW itu diutus sebagai “muballigh” dari Allah SWT. Firman Allah yang menunjukkan demikian, antara lain :

ياَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ. المائدة:67

“Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. [QS. Al-Maidah : 67].

Dan juga sebagai “mubayyin” (yang menerangkan) tentang yang dikehendaki oleh Allah, sebagaimana dinyatakan dengan firman-Nya :

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيّنَ  لِلنَّاسِ مَا نُزّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. النحل: 44

Dan Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu (Muham-mad), supaya kamu menerangkan kepada segenap manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Dan supaya mereka memikirkan. [QS. An-Nahl : 44].

Sehubungan dengan itu maka Nabi Muhammad SAW menerangkan Al-Qur’an itu ada kalanya dengan perbuatan, adakalanya dengan perkataan, adakalanya dengan iqrar, dan adakalanya dengan perbuatan dan perkataan. Seperti urusan perintah shalat, beliau mengerjakan dan memerintahkannya, dengan sabdanya :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِى أُصَلّى. البخارى ومسلم

“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat”. [HR Bukhari – Muslim]

Beliau mengerjakan ibadah hajji dan bersabda :

قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ اْلحَجَّ فَحُجُّوْا. احمد و مسلم و النسائى

“Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian hajji, maka berhajjilah” . [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai].

Dengan ini jelaslah bahwa “sunnah” itu yang menerangkan isi Al-Qur’an, menjelaskan kesimpulannya, membatasi muthlaqnya dan menguraikan kemusykilan (kesulitan)nya. Maka dari itu tidak ada sesuatu yang terdapat di dalam sunnah, melainkan Al-Qur’an telah menunjukkan-nya dengan petunjuk yang singkat ataupun yang panjang; secara ijmali maupun tafshili.

Dan di antaranya ada yang umum sekali maksudnya, yaitu ayat yang memerintahkan kita (ummat Islam) mengikut Rasulullah SAW seperti ayat :

وَمَا اتكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهيكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا. الحشر:7

“Dan apa-apa yang telah didatangkan Rasul kepadamu, maka ambillah dia; dan apa yang kamu telah dicegah mengerjakannya, maka tinggalkanlah”. [QS. Al-Hasyr : 7].

Imam Asy-Syathibiy berkata di dalam Kitab Al-Muwafaqat, “Urutan “sunnah” itu ada di bawah atau di belakang Al-Qur’an. Adapun keterangannya sebagai berikut :

Pertama, karena Al-Qur’an itu diyakini kebenarannya dengan tegas, sedang As-Sunnah kebenarannya masih di dalam dhann (persangkaan kuat). Jelasnya : Al-Qur’an itu dari segi ketetapan dan kenyataannya adalah diyakini kedatangannya, sedang As-Sunnah itu kebanyakan dari dhan, kecuali yang bertingkatan mutawatir. Oleh sebab itu, yang diyakini dengan tegas harus didahulukan daripada yang  madhnun. Dengan demikian maka wajiblah mendahulukan Al-Qur’an daripada As-Sunnah.

Kedua, As-Sunnah itu adakalanya untuk menjadi keterangan bagi Al-Qur’an, dan ada kalanya untuk menambah keterangan saja. Maka dengan sendirinya As-Sunnah terkemudian dari Al-Qur’an. Yakni : Yang menerangkan itu terkemudian dari yang diterangkan. Maka jika ia (sunnah) menjadi keterangan, tentu saja ia menjadi yang kedua sesudah yang diterangkan. Dengan ini menunjukkan pula, bahwa Al-Qur’an harus didahulukan.

Ketiga, beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan demikian, antara lain seperti hadits Rasulullah SAW ketika mengutus shahabat Mu’adz RA. untuk menjadi pemimpin agama di negeri Yaman, dia ditanya oleh Rasulullah SAW :

قَالَ: بِمَ تَحْكُمُ ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ تَجِدْ ؟ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُوْلِ  اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ تَجِدْ ؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى. الموافقات4: 6

Nabi SAW bertanya : Dengan apa engkau menghukumi ? Jawab Muadz : Dengan Kitab Allah. Nabi SAW berkata : Jikalau tidak kamu dapati ? Jawab Muadz : Dengan sunnah Rasulullah. Tanya Nabi SAW : Jika tidak kamu dapati ? Jawab Muadz : Saya berijtihad dengan fikiran saya. [Al-Muwaafaqaat 4 : 6]

Khalifah Umar bin Khaththab RA pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :

اِذَا اَتَاكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتَاكَ مَا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص. . الموفقات4: 6

“Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah SAW”. [Al-Muwafaqaat 4 : 6]

Berkenaan dengan kedudukan sunnah Rasul SAW ini, Imam Syafi’i berkata :

كُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ ص فَهُوَ ِممَّا فَهِمَهُ مِنَ اْلقُرْآنِ.

“Segala apa yang telah dihukumkan oleh Rasulullah SAW itu, semuanya dari apa-apa yang difahamkannya dari Al-Qur’an”.

Dan juga beliau berkata :

وَ جَمِيْعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ  لِلْقُرْآنِ.

“Dan semua sunnah itu adalah penjelasan bagi Al-Qur’an”.

Dalam kitab “Ar-Risalah“, Imam Asy-Syafi’i dengan panjang lebar menguraikan tentang keterangan dan kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur’an yang kesimpulannya sebagai berikut :

  1. As-Sunnah menjadi Bayan Tafshil, keterangan yang menjelaskan ayat-ayat yang mujmal (ringkas).
  2. As-Sunnah menjadi Bayan Takhshish, yaitu keterangan yang menentukan sesuatu dari yang umum.
  3. As-Sunnah menjadi Bayan Ta’yin, yaitu keterangan yang menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga macam kemungkinan pengertian.
  4. Di samping itu kadang-kadang As-Sunnah mendatangkan suatu hukum yang tidak didapati pokoknya di dalam Al-Qur’an.
  5. Dan dengan As-Sunnah itu dapat dijalankan dalil untuk nasikh-mansukh. Yakni : Menentukan mana ayat yang nasikh dan mana yang dimansukhkan dari ayat-ayat yang kelihatannya berlawanan.

SUNNAH & BID’AH (ke-2)

  1. Contoh As-Sunnah menjadi bayan tafshil

Al-Qur’an menyebutkan :

وَ اَقِيْمُوا الصَّلوةَ. النساء: 77

Dan dirikanlah shalat. [QS. An-Nisaa’ : 77]

Maka As-Sunnah menjelaskan waktu-waktunya shalat fardlu, bilangan rekaatnya, dan cara-caranya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِى اُصَلّى. البخارى 1: 155

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. [HR. Bukhari juz 1, hal. 155]

Al-Qur’an menyebutkan :

وَ اتُوا الزَّكوةَ. النساء: 77

Dan tunaikanlah zakat. [QS. An-Nisaa’ : 77]

Maka As-Sunnah menjelaskan ukuran zakat, waktu mengeluarkan, macam-macamnya, dsb.

Al-Qur’an menyebutkan :

وَ ِللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ اْلبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً. آل عمران: 97

Mengerjakan hajji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu memgadakan perjalanan ke Baitullah. [QS. Ali ‘Imraan : 97]

وَ اَتِمُّوا اْلحَجَّ وَ اْلعُمْرَةَ ِللهِ. البقرة: 196

Dan sempurnakanlah hajji dan umrah karena Allah. [QS. Al-Baqarah : 196]

Maka As-Sunnah menjelaskan cara-caranya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda :

لِتَأْخُذُوْا مَنَاسِكَكُمْ. مسلم 2: 943

Hendaklah kalian mengambil (dariku) cara-cara ibadah hajji kalian. [HR. Muslim juz 2, hal. 943]

خُذُوْا عَنّى مَنَاسِكَكُمْ. البيهقى 5: 125

Ambillah dariku cara-cara manasik hajji kalian. [HR. Baihaqi juz 5, hal. 125]

  1. Contoh As-Sunnah menjadi bayan takhshish

Al-Qur’an menyebutkan :

اَلَّذِيْنَ امَنُوْا وَ لَمْ يَلْبَسُوْآ اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ. الانعام: 82

orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman. [QS. Al-An’aam : 82]

Setelah mendengar ayat tersebut sebagian shahabat Nabi SAW terasa berat, karena memahami bahwa dhalim dalam ayat tersebut adalah dhalim secara umum, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW :

يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ اَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟ مسلم 1: 114

Ya Rasulullah, siapa diantara kita yang tidak berbuat dhalim kepada dirinya .?. [HR. Muslim juz 1, hal 114]

Kemudian Nabi SAW menjawab, “Bukan begitu yang dimaksud, (tetapi dhalim dalam ayat itu ialah perbuatan syirik). Sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya :

يبُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ، اِنَّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. لقمان: 13

Wahai anakku, janganlah kamu syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu kedhaliman yang besar. [QS. Luqman : 13]”.

  1. Contoh As-Sunnah menjadi bayan tayin

Al-Qur’an menyebutkan :

اَلسَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْآ اَيْدِيَهُمَا. المائدة: 38

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya. [QS. Al-Maaidah : 38]

As-Sunnah menentukan bahwa yang dipotong adalah tangan kanannya.

اِنَّ امْرَاَةً سَرَقَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقُطِعَتْ يَدُهَا اْليُمْنَى. احمد 2: 592، رقم: 6669

Sesungguhnya pada zaman Rasulullah SAW ada seorang wanita mencuri, lalu ia dipotong tangan kanannya. [HR. Ahmad juz 2, hal. 592, no. 6669]

Al-Qur’an menyebutkan :

غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّيْنَ. الفاتحة: 7

bukan jalannya orang-orang yang dimurkai atas mereka, dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat. [QS. Al-Faatihah : 7]

As-Sunnah menentukan ma’nanya yang dimaksud Al-Maghdluubi ‘alaihim adalah orang-orang Yahudi, dan yang dimaksud Adl-Dloolliin adalah orang-orang Nashrani.

اِنَّ الْمَغْضُوْبَ عَلَيْهِمُ اْليَهُوْدُ وَ الضَّالّيْنَ النَّصَارَى. ابن حبان 6: 369

Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu ialah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nashrani. [HR Ibnu Hibban juz 6, hal. 369]

  1. Contoh As-Sunnah mendatangkan hukum yang tidak didapati pokoknya dalam Al-Quran, seperti adanya hukum rajam.

Rasulullah SAW bersabda kepada para shahabat mengenai seorang laki-laki yang berzina dan ia seorang muhshan (pernah nikah) :

اِذْهَبُوْا بِهِ فَارْجُمُوْهُ. مسلم 3: 1318

Bawalah ia pergi dan rajamlah. [HR. Muslim juz 3, hal 1318]

Dan juga haramnya mengumpulkan dalam perkawinan seorang istri dengan bibinya.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ اْلمَرْأَةِ وَ عَمَّتِهَا وَ لاَ بَيْنَ اْلمَرْأَةِ وَ خَالَتِهَا. مسلم 2: 1028

Rasulullah SAW bersabda, Tidak boleh dikumpulkan (dimadu) antara seorang wanita dengan saudara perempuan ayahnya, dan tidak boleh pula antara seorang wanita dengan saudara perempuan ibunya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1028]

  1. Contoh As-Sunnah dapat dijadikan dalil untuk Nasikh mansukh

Al-Qur’an menyebutkan :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ اْلمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا اْلوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَ اْلاَقْرَبِيْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ، حَقًّا عَلَى اْلمُتَّقِيْنَ. البقرة: 180

Diwajibkan atas kalian apabila seorang diantara kalian kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwashiyat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara maruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Baqarah : 180]

Al-Qur’an juga menyebutkan ayat-ayat mawaarits dalam surat An-Nisaa’ : 11-12.

Sedangkan As-Sunnah menyebutkan :

لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ. الترمذى 3: 294، رقم: 2204

Tidak ada washiyat untuk ahli waris. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 294, no. 2204]

Maka dengan demikian bisa difahami bahwa ayat-ayat mawaarits tersebut menasakh (menghapuskan hukum) yang ada pada ayat 180 Al-Baqarah tersebut, walaupun ayat tersebut tetap dibaca (tidak dihapus).

Adapun contoh As-Sunnah “membatasi kemuthlaqannya, sebagai berikut :

Al-Qur’an menyebutkan :

اَلسَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْا اَيْدِيَهُمَا. المائدة: 38

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya. [QS. Al-Maaidah : 38]

Ayat tersebut menerangkan (secara muthlaq) bahwa pencuri laki-laki atau perempuan supaya dipotong tangannya, tanpa menerangkan batas minimal yang menyebabkan pencuri dipotong tangannya. Maka As-Sunnah menerangkan batas minimal barang yang dicuri tersebut.

Nabi SAW bersabda :

لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ اِلاَّ فِى رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا. مسلم 3: 1313

Tidak dipotong tangan pencuri kecuali dia mencuri senilai seperempat dinar atau lebih. [HR, Muslim juz 3, hal. 1313]

Dan juga hadits dari Ibnu ‘Umar :

اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطَعَ سَارِقًا فِى مِجَنّ قِيْمَتُهُ ثَلاَثَةُ دَرَاهِمَ. مسلم 3: 1313

Bahwasanya Rasulullah SAW pernah memotong tangan pencuri yang mencuri perisai seharga tiga dirham. [HR. Muslim juz 3, hal. 1313]

Keterangan :

Dinar adalah uang emas, sedangkan dirham adalah uang perak. 1 dinar nilainya antara 10 – 12 dirham.

Dan juga As-Sunnah dapat menjadi takhshish bagi Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebutkan :

يُوْصِيْكُمُ اللهُ فِيْ اَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظّ اْلاُنْثَيَيْنِ. النساء: 11

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. [QS. An-Nisaa’ : 11]

Dalam ayat itu disebutkan anak-anakmu. Kalimat ini masih umum, maka As-Sunnah mengkhususkan dari keumuman ayat tersebut.

Nabi SAW bersabda :

لاَ يَرِثُ اْلمُسْلِمُ اْلكَافِرَ وَ لاَ يَرِثُ اْلكَافِرُ اْلمُسْلِمَ. مسلم 3: 1233

Orang Islam itu tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak pula mewarisi orang Islam. [HR. Muslim juz 3, hal. 1233]

Wajib mengikuti sunnah dan menjauhi bidah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  ص: اِنَّ اَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ اَحْسَنَ اْلهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَ شَرُّ اْلاُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. النسائى 3: 188

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya sebenar-benar perkataan ialah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara itu yang diada-adakan, dan tiap-tiap yang diada-adakan itu bidah, dan tiap-tiap bidah itu sesat, dan tiap-tiap kesesatan itu di neraka. [HR. Nasai juz 3, hal. 188]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  ص يَقُوْلُ: اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ خَيْرَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرُ اْلهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَ شَرُّ اْلاُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. مسلم 2: 592

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersabda, Adapun sesudah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bidah adalah sesat. [HR. Muslim juz 2, hal. 592]

عَنِ اْلعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ اِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اِخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيّيْنَ، فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَ اِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلاُمُوْرِ، فَاِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. احمد 6: 83، رقم: 17145

Dari Irbadl bin Sariyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu sekalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan thaat, sekalipun (yang menjadi pemimpin) budak Habsyiy, karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kamu sekalian sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka dari itu hendaklah kamu sekalian (berpegang) pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi menetapi petunjuk yang benar, berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhkanlah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya tiap-tiap perkara yang diada-adakan itu bidah, dan tiap-tiap bidah itu sesat. [HR. Ahmad juz 6, hal. 83, no. 17145]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  ص قَالَ: اِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ اْلكَلاَمُ وَ اْلهَدْيُ فَاَحْسَنُ اْلكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ وَ اَحْسَنُ اْلهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ. اَلاَ وَ اِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلاُمُوْرِ فَاِنَّ شَرَّ اْلاُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. ابن ماجه 1: 18، رقم: 46

Dari Abdullah bin Masud bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Hanyasanya ada dua perkara (yang penting), perkataan dan petunjuk. Maka sebaik-baik perkataan ialah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk  ialah petunjuk Muhammad. Ketahuilah, jauhkanlah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara itu yang diada-adakan, dan tiap-tiap yang diada-adakan itu bidah, dan tiap-tiap bidah itu sesat. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 18, no. 46]

Hadits-hadits tersebut menerangkan bahwa sebenar-benar perkataan itu ialah yang tersebut dalam kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad SAW, dan sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan, dan tiap-tiap perkara yang diada-adakan dalam urusan agama itu bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah itu sesat”.

Dengan hadits-hadits tersebut cukuplah menunjukkan bahwa kita (ummat Islam) dalam mengerjakan agama haruslah mengikuti sunnah Nabi SAW dan menjauhi perbuatan-perbuatan bid’ah.

SUNNAH & BID’AH (ke-3)

Bahaya bidah

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. مسلم 3: 1344

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak. [HR. Muslim juz 3, hal. 1344]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ اَحْدَثَ فِى اَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. مسلم 3: 1343

Dari Aisyah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Bartangsiapa mengada-adakan dalam perintah kami ini, apa-apa yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. [HR. Muslim juz 3, hal. 1343]

قَالَ ابْنُ عِيْسَى قَالَ النَّبِيُّ ص: مَنْ صَنَعَ اَمْرًا عَلَى غَيْرِ اَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ. ابو داود 4: 200

Ibnu Isa berkata, Nabi SAW bersabda, Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan selain dari perintah Kami, maka ia tertolak. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 200]

عَنْ اَنَسٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّى. مسلم 2: 1020

Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. [HR. Muslim juz 2, hal. 1020]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَبَى اللهُ اَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ. ابن ماجه 1: 19، رقم: 50

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Allah tidak mau menerima amal orang ahli bidah sehingga ia meninggalkan bidahnya. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 19, no. 50, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Zaid dan Abu Mughirah, keduanya majhul]

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَقْبَلُ اللهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَ لاَ صَلاَةً وَ لاَ صَدَقَةً وَ لاَ حَجًّا وَ لاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَ لاَ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلاً. يَخْرُجُ مِنَ اْلاِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ اْلعَجِيْنِ. ابن ماجه 1: 19، رقم: 49

Dari Hudzaifah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Allah tidak mau menerima dari orang ahli bidah akan puasanya, shalatnya, shadaqahnya, hajjinya,umrahnya, jihadnya, taubatnya dan tidak pula tebusannya, ia telah keluar dari Islam seperti keluarnya sehelai rambut dari adonan tepung. [R. Ibnu Majah juz 1, hal. 19, no. 49, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Mihshan]

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ مَشَى اِلىَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ لِيُوَقّرَهُ فَقَدْ اَعَانَ عَلَى هَدْمِ اْلاِسْلاَمِ. الطبرانى فى الكبير20: 96، رقم: 188

Dari Muadz bin Jabal RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa berjalan kepada seorang ahli bidah karena akan menghormatinya, maka sesungguhnya ia telah bersekongkol untuk merobohkan Islam. [HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir juz 20, hal. 96, no. 188, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Baqiyah bin Walid]

عَنْ غُضَيْفِ بْنِ اْلحَارِثِ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: مَا اَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً اِلاَّ رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ فَتَمَسُّكٌ بِسُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ اِحْدَاثِ بِدْعَةٍ. احمد6: 40، رقم: 16967، ضعيف

Dari Ghudlaif bin Al-Harits RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, Tidaklah suatu kaum mengada-adakan bidah, melainkan diangkatlah semisalnya daripada sunnah, maka berpegang dengan sunnah itu lebih baik daripada mengada-adakan bidah. [HR. Ahmad juz 6, hal. 40, no. 16967, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Bakar bin ‘Abdullah]

عَنِ اْلحَكَمِ بْنِ عُمَيْرٍ الثّمَالِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَْلاَمْرُ اْلمُفْظِعُ وَ اْلحِمْلُ اْلمُضْلِعُ وَ الشَّرُّ الَّذِى لاَ يَنْقَطِعُ اِظْهَارُ اْلبِدَعِ. الطبرانى، فى الكبير 3: 219، رقم: 3194

Dari Al-Hakam bin Umair Ats-Tsimaliy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,  Perkara yang sangat jelek, dan beban yang amat berat, dan perbuatan jahat yang tidak ada putusnya ialah menampakkan perbuatan- perbuatan bidah. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 3, hal. 219, no. 3194, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Baqiyah bin Walid]

عَنْ عَاصِمٍ قَالَ: قُلْتُ ِلاَنَسٍ: اَحَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص اْلمَدِيْنَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ. مَا بَيْنَ كَذَا اِلىَ كَذَا. لاَ يُقْطَعُ شَجَرُهَا مَنْ اَحْدَثَ فِيْهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمَلاَئِكَةِ وَ النَّاسِ اَجْمَعِيْنَ. قَالَ عَاصِمٌ: فَاَخْبَرَنِى مُوْسَى بْنُ اَنَسٍ اَنَّهُ قَالَ: اَوْ آوَى مُحْدِثًا. البخارى 8: 148

Dari Ashim, ia berkata : Aku bertanya kepada Anas, Apakah Rasulullah SAW mengharamkan kota Madinah ?. Ia menjawab, Ya, yaitu antara daerah ini dan daerah ini, tidak boleh ditebang pepohonannya. Barangsiapa mengadakan sesuatu cara yang baru (bidah) di daerah itu, maka ia mendapat lanat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Lalu Ashim berkata, Musa bin Anas pernah meriwayatkan kepadaku bahwa beliau pernah bersabda, Atau orang yang melindungi kepada orang yang membuat bidah. [HR Bukhari juz 8, hal. 148]

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى اْلحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ اِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتىَّ اِذَا اَهْوَيْتُ ِلاُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوْا دُوْنِى فَاَقُوْلُ أَيْ رَبّ اَصْحَابِى فَيَقُوْلُ: لاَ تَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.  البخارى 8:

Dari Abdullah (bin Masud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Aku adalah pendahulu kamu di telaga (haudl). Sungguh ada orang-orang diantara kalian yang diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan (tangan) untuk menjangkau mereka, maka mereka ditarik dariku. Lalu aku berseru, Wahai Tuhanku, mereka itu ummatku. Maka Allah berfirman, Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. [HR. Bukhari juz 8, hal. 87]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ اُمَّتِي  يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ اِلاَّ مَنْ اَبَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ مَنْ اَطَاعَنِي دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ اَبَى. البخارى 8: 139

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya semua ummatku akan masuk surga, kecuali orang yang tidak mau. Para shahabat bertanya, Ya Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu ?. Beliau SAW bersabda, Barangsiapa yang menthaatiku, ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka berarti ia tidak mau. [HR. Bukhari juz 8, hal. 139]

Ummat Islam akan mengikuti jejak orang-orang dahulu

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، آلْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ البخارى 8: 151

Dari Abu Said Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya. Kami (shahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ?. Beliau bersabda, Lalu, siapa lagi ?. [HR. Bukhari juz 8, hal. 151]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِى جُحْرِ ضَبّ َلاتَّبَعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، آلْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ مسلم 4: 2054

Dari Abu Said Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya. Kami (shahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ?. Beliau bersabda, Lalu, siapa lagi ?. [HR. Muslim juz 4, hal. 2054]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَتَتَّبِعُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بَاعًا بِبَاعٍ، وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ وَ شِبْرًا بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِى جُحْرِ ضَبّ لَدَخَلْتُمْ فِيْهِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، آلْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ اِذًا. ابن ماجه 2: 1322، رقم: 3994

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian akan memasukinya juga. Para shahabat bertanya, Ya Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani ?. Beliau menjawab, Siapa lagi kalau bukan mereka ?. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1322, no. 3994]

Penegak Sunnah selalu ada sepanjang masa

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّتِى ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقّ. لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ اَمْرُ اللهِ وَ هُمْ كَذلِكَ. مسلم 3: 1523، رقم: 170

Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran. Tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya, sehingga Allah mendatangkan perintah-Nya, sedangkan mereka tetap demikian itu. [HR. Muslim juz 3, hal. 1523, no. 170]

عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّتِى قَائِمَةً بِاَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ اَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ اَمْرُ اللهِ وَ هُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ. مسلم 3: 1524، رقم: 174

Dari Muawiyah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Selalu ada seglongan dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya atau menyelisihinya, sehingga datang keputusan Allah dan mereka tetap ada di tengah-tengah manusia. [HR. Muslim juz 3, hal. 1524, no. 174]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. الترمذى 4: 129

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula, maka berbahagialah orang-orang yang asing. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 129, no. 2764]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: بَدَأَ اْلاِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. مسلم 1: 130

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula asing. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing. [HR Muslim juz 1, hal. 130]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا اْلغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. الطبرانى فى الكبير 6: 164، رقم: 5867

Dari Sahl bin Sad As-Saaidiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing. Para shahabat bertanya, Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?. Beliau bersabda, Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusak. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ فِيْمَا اَعْلَمُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذِهِ اْلاُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلّ مِائَةِ سَنَة مَنْ يُجَدّدُ لَهَا دِيْنَهَا. ابو داود 4: 109، رقم: 4291

Dari Abu Hurairah, menurut yang aku ketahui dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada ummat ini setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui agama pada ummat tersebut. [HR Abu Dawud juz 4, hal. 109, no. 4291]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s